Sebuah kota dibangun oleh makna,
adalah makna yang membuat suatu tempat mempunyai nama.
Jakarta, demikian selalu disebutkan, berarti kemenangan. Riwayat itu bisa dilacak sendiri, antara lain misalnya dari Hikayat Jakarta (Obor,1988) yang ditulis Willard A. Hanna. Kemasan yang lebih populer, tentang berbagai nama tempat dan riwayatnya di Jakarta, belakangan ditulis oleh Alwi Shihab dalam dua buku, Robin Hood Betawi (Republika,2001) dan Betawi: Queen of the East (Republika,2002). Memang, eksotisisme adalah daya tarik luar biasa bagi nama-nama tempat – sesuatu menjadi luar biasa karena berjarak. Sejarah, perjalanan waktu, membuat nama tempat mempunyai daya tarik karena nama itu sendiri. Artinya, adalah makna yang membuat suatu tempat mempunyai nama.
Diantara yang menggetarkan misalnya adalah Kampung Pecah Kulit. Barangsiapa menyelidiki asal nama itu akan bergidik: seorang warga Batavia keturunan ayah Belanda-Jerman dan ibu Jawa yang mengadakan perlawanan atas kebijakan kolonial Belanda, telah dihukum dengan cara yang amat kejam. Tangan dan kakinya masing-masing ditarik oleh empat ekor kuda ke empat jurusan. Setelah itu kepalanya dipenggal, dan setelah di tancap oleh sebuah tombak, dipancangkan di halaman rumahnya sendiri sebagai monumen peringatan, dengan inskripsi yang masih tersimpan di Musium Sejarah DKI: “Catatan, dari peringatan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara
yang telah dihukum:Pieter Erberveld. Dilarang, orang mendirikan rumah, gedung, atau memasang papan kayu,
demikian pula bercocok tanam, di tempat ini, sekarang sampai selama-lamanya. Selesai.”
Tulisan ini ditatah pada sebuah batu biru dalam bahasa Belanda, lengkap dengan terjemahan dalam bahasa Jawa (Baru) yang berhuruf Jawa pula. Monumen dan batu biru itu sudah lenyap, tapi riwayat Pieter Erberveld yang malang terabadikan oleh Tio Ie Soei, yang menuliskanya dalam bahasa Melayu Tionghoa: Pieter Elberveld (Satoe kedjadian jang betoel di Betawi), yang kini bisa dibaca dalam antologi sastra pra-Indonesia Tempo Doeloe (Hasta Mitra,1982) susunan Pramoedya Ananta Toer. Perhatikan beda huruf r dan l pada nama si korban, tapi itu urusan para sejarawan.
Bagi saya, yang penting, dengan terbacanya tulisan ini, peristiwa yang kejadianya tanggal 22 April 1722 itu akan masih bisa dikenang sekali lagi dengan arti yang kebalikan dari maksud semula. Alih-alih hukuman dimaksud untuk membungkam perlawanan, peristiwa yang terabadikan pada nama Kampung Pecah Kulit di Jakarta Utara itu justru menjadi inspirasi melawan penindasan para pengusaha: kalah tidak usah jadi masalah, selama tidak pernah menyerah. Pada masa itu, hukuman mati dipertontonkan kepada orang banyak. Sebagaian barangkali memang menjadi makin takut, tapi sebagian lagi saya kira menjadi berpikir, karena tidaklah terlalu susah kiranya untuk memandang peristiwa semacam itu dengan kritis.
Sikap kritis melahirkan kesadaran. Namun jika penyadaran tak terus menerus dilakukan, manusia itu mudah lupa: coba saja tanyakan kepada para pejabat produk reformasi, seberapa ingat mereka kepada para nama-nama para mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas oleh peluru para penembak jitu di tahun 1998? Kalau saya, sebagai musafir lata, boleh saja lupa – tapi bagaimana dengan mereka yang berkat reformasi mendadak kaya? Kampung Pecah Kulit bukan satu-satunya kisah. Setiap nama tempat punya riwayat, yang tak usah selalu heroik, tapi mempunyai makna yang memperkaya. Persoalanya, bagaimanakah agar kekayaan makna itu bisa terhampar, dan siapapun bisa memungutinya?
Ini bukanlah soal menancapkan sembarang patung, atau memberi nama jalan, yang kemudian terbukti kehilangan makna – tapi memberi arti kepada peristiwa kemanusiaan yang barangkali saja menelan korban. Nama Jalan Taman Siswa misalnya, jelas berbeda dengan sekedar Jalan Bougenville. Kalau kita membaca roman Manusia Bebas (1940) yang ditulis Suwarsih Djojopuspito tentang kegiatan pendidikan kaum nasionalis di tahun ‘30an, kita tidak akan mengira betapa risiko profesi guru itu adalah penjara. Sebuah kota tak hanya dibangun oleh aspal, beton, dan batu bata – ia terutama dibangun oleh makna.
Masihkah kiranya Jakarta berarti kemenangan? Sebuah anekdot berkisah tentang bagaimana Betawi mendapatkan namanya. Konon pasukan kumpeni susah payah menahan serbuan tentara Mataram pada abad XVII. Mereka terkurung di bentengnya begitu rupa, sehingga harus melempar atau menyemprotkan tinja dari berbagai pembuangan. Karuan orang-orang Jawa yang menyerbu itu lari menghindar sambil berteriak: “Mambet tai! Mambet tai!” yang artinya adalah bau tinja, yang akhirnya terlafalkan sebagai be-ta-wi untuk mengabadikan tempat itu. Adapun para ahli bahasa, memang cenderung merujuknya sebagai keterpelesetan lidah atas ucapan Batavia. Tapi tidakkah boleh kita pertanyakan lagi sekarang: apakah Jakarta masih pantas bermakna kemenangan, atau sekedar bau tinja?
.::.
Sabtu, 26 Mei 2007
mochathar@gmail.com
disadur dari buku:
affair:obrolan tentang jakarta
2004 oleh Seno Gumira Ajidarma.