Ukuran sukses di Jakarta sudah terkontaminasi penyakit sosial yang parah. Reformasi mengubah pemerintahan, bisakah reformasi mengubah mentalitas?
Masih sangat sering saya mendengar ucapan “Semoga sukses”. Dalam benak saya berfikir, “Wah, kalau tidak sukses bagaimana?” Sangat sering saya mengamati pembukaan pameran, peluncuran buku, pemutaran film, bahkan acara diskusi yang mendapat kiriman karangan bunga segede gajah. Dalam karangan bunga itu biasanya juga terdapat tulisan “Selamat dan Sukses” atau “Semoga berhasil” atau juga lagi-lagi “Semoga Sukses”.
Kisah sukses di Jakarta adalah kisah sukses dengan ukuran-ukuran baku yang ajaib, alias tidak masuk akal. Kalau Anda seorang guru teladan yang berangkat ke sekolah untuk mengajar naik sepeda motor, yang mogok-mogok pula, kategori apapun sangat sulit menyebut Anda seorang yang sukses. Setelah menyetir selama 30 tahun, seorang supir mempunyai reputasi tidak pernah secuilpun menyerempet mobil lain, tidak pernah ditilang, tidak pernah terlambat, dan hanya membunyikan klakson dalam keadaan sangat terpaksa inipun tidak akan pernah dipuji sebagai sukses. Di Jakarta, kategori sukses ditakar melalui ukuran-ukuran yang kategorinya keliru.
Andaikan Anda diangkat jadi menteri. Meskipun Anda belum mulai bekerja, Anda sudah dianggap orang sukses. Jabatan Anda adalah sukses Anda, bahwa sebagai menteri Anda rada-rada bego, itu bukan persoalan besar. “Dia pernah jadi menteri” adalah ucapan yang menunjukan bahwa jabatannya jauh lebih penting dari prestasi kerjanya. Sedangkan dalam ucapan “Dia menteri yang jujur” kita memang mendengar penghormatan dan pujian, tapi sekali lagi bercampur rasa kasihan. Karena menteri yang jujur diterima sebagai menteri yang tidak mempergunakan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri, dan tidak mempergunakan kesempatan dalam ukuran-ukuran sukses Jakarta adalah suatu kebodohan.
Begitulah, sukses di Jakarta telah menjadi berhala. Kalau Anda tidak sukses dalam ukuran-ukuran ajaib itu: bukan direktur, tidak berdasi, datang naik bis, bekerja di perusahaan gurem, tidak doyan lasagna yang rasanya seperti sabun, selalu berkeringat, dan tidak bisa bahasa Inggris – seolah-olah Anda bukan manusia, atau tetap manusia tapi tergolong orang-orang kasihan. Tentu saja ini tidak benar, tapi Jakarta telah menjadi kota salah kaprah. Akan menjadi ajaib kalau di sampul depan majalah bisnis misalnya terpampang eksekutif bengkel mobil, meskipun ia bengkel mobil yang sukses, hanya karena eksekutifnya tidak berdasi, selain karena citra tukang dalam keahlian bermesin ria juga tidak merupakan representasi orang sukses.
Jakarta seolah-olah hanya menjadi tempat memburu kesuksesan. Orang yang dianggap tidak sukses, tidak didatangi, tidak disalami, tidak ditegur, tidak di lirik, apalagi diingat-ingat. Orang-orang tanpa kisah sukses, meski cuma sukses secuil-secuil, seperti tidak ada, karena hidup tanpa kesuksesan bukanlah kehidupan yang bermakna. Sedangkan ukuran-ukuran sukses sudah terkontaminasi penyakit sosial yang parah. Reformasi mengubah pemerintahan, tapi apakah reformasi mengubah mentalitas? Lihatlah undangan kartu perkawinan, sering kita lihat pejengan gelar yang campur aduk. Gelar akademis bercampur gelar darah biru maupun gelar agama. Padahal gelar-gelar tersebut tidak mempunyai relevansi apapun terhadap substansi perkawinan tersebut. Ini sebuah kondisi sosial budaya yang sangat sulit direformasi, karena hanya kesuksesan yang membuat manusia dianggap ada. Akibatnya, dalam kartu undangan perkawinan, kalu bukan Doktor, Raden Mas pun jadi.
Kesuksesan hanya berhubungan dengan prestise. Pemain sepakbola yang hebat diandaikan sukses karena dengan ketrampilanya ia menjadi kaya, sebaliknya pemain sepak takraw nomor satu di dunia pun tak akan pernah di lirik, karena sepak takraw tidak menempati posisi prestisius dalam hirarki sosial olahraga. Hirarki sosial ini menunjukan kekacauan persepsi kita. Perhatikan: tenis elit – tinju kampungan; squash elit – karambol kampungan; spa elit – jogging sok merakyat. Begitu pula dalam musik, jazz dan opera elit – dangdut kampungan. Semua ini menjadi kesalahan yang sebetulnya disadari, tapi juga dinikmati karena kenyamanan prestise sosial yang menjadi bayaran.
Celakanya, untuk menggapai sukses-sukses salah kaprah ini, karena begitu pentingnya kesuksesan dalam hidup ini, dilakukanlah segala cara. Mereka yang bekerja di media massa tahu betapa tebal tipisnya amplop sering ikut berperan membuat seseorang sukses atau tidak sukses. Buku-buku Cara cepat jadi kaya dan Sukses dalam Wawancara (untuk diterima kerja) dibaca bagaikan menelan pil, supaya kesuksesan bisa di raih dengan secepat-cepatnya. Pada giliranya ini melahirkan falsafah kesuksesan macam Sepuluh Cara Rumahtangga Bahagia, Selusin Cara mempertahankan Cinta, Kiat-kiat Bahagia Sepanjang masa. Begitulah. Mau bahagia kok maksa!
Masalahnya, boleh kan di Jakarta ini seseorang tidak usah ikut-ikut berburu kesuksesan? Boleh kan jadi orang-orang biasa saja yang cukup puas asal bisa hidup mandiri, tidak jadi parasit, dan bisa berekspresi secara merdeka? Boleh kan tidak usah berkompetisi dan santai-santai menjadi juara nomor enam saja, atau nomor duabelas, tidak usah pakai dasi, tidak usah pakai batik, tidak usah membungkuk-bungkuk rindu order, tidak usah cari muka, menjadi warga kelas dua saja yang tidak usah nonton opera dan culup puas (meski sering sebel juga) dengan sinetron sambil terkantuk-kantuk dimuka televisi? Boleh kan menjadi manusia biasa yang sedang-sedang saja? Berbahagialah orang yang tidak sukses, selama mereka tidak punya beban. Bagi yang memberhalakan kesuksesan, tapi gagal, boleh ditunggu di lapangan parkir: siapa tahu meloncat dari lantai 20.
Itulah sebabnya, kalau orang berkata, “Semoga sukses!”, saya berpikir, “Wah, kalau tidak sukses, bagaimana?”
.::.
Jakarta, 23 mei 2007.
mochathar@gmail.com
Disadur dari buku
affair:obrolan tentang jakarta oleh Seno Gumira Ajidarma
Penerbit Buku Baik Yogyakarta tahun 2004
ngomong apa to mas … mas…..!!!
By: bekas anak albarkah on March 5, 2008
at 11:20 am
Hmmm… emang paling enak klo bisa cuek, persetan kata orang apa… jadi gak ada beban untuk menjadi orang sukses (sukses menurut ibu, bapak, mertua, adik, kakak, budhe, pakde, tetangga,dll)
Menurut aku sih sukses itu berarti : kita berhasil meraih/menjadi apa yg KITA inginkan. Soo…. ingin jadi nomer 1 ? atau ingin jadi nomer 6 ? semoga sukses ya….
-puspa/sari-
By: puspa on January 15, 2009
at 7:37 am