Posted by: athar | 4 June 2010

Minggu Pagi di Victoria Park

-Press release-

TKW dalam Sinema

Film Minggu Pagi di Victoria Park, produksi Pic[k]Lock yang dibintangi oleh Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Damara, Donny Alamsyah  disutradarai oleh Lola Amaria, telah selesai dan akan beredar mulai tanggal 10 Juni 2010.

Film ini mengkisahkan tentang cermin realitas kehidupan masyarakat kalangan bawah yang kemudian mencoba meningkatkan taraf hidupnya dengan bekerja di luar negeri sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita).

Dengan modal pengetahuan dan ketrampilan yang tidak berlebihan, banyak benturan yang dihadapi. Adalah Sekar atas berbagai pertimbangan memutuskan pergi ke Hongkong, dia menganggap bahwa dengan dia memiliki penghasilan yang besar maka dapat membantu kehidupan  keluarga yang sangat dia cintai. Cita-cita Sekar untuk membahagiakan orangtuanya bertitik tolak dari segala kedekatan dia kepada sang ayah yang mampu membimbing dia menjadi pribadi yang peka, penuh kasih-sayang.

Perhatian besar sang ayah hanya menjadikan sebagai perempuan yang paham terhadap kesulitan orang lain, namun kurang memahami bagaimana agar mampu menjawab kesulitan-kesulitan tersebut. Sekar bukan dibesarkan oleh keluarga mapan yang bisa menyekolahkan dirinya. Impian dan cita-citanya akhirnya hanya diwujudkan melalui jalan yang dia pahami.

Ketika telah berada di Hongkong, ternyata dunia yang dia hadapi sangat jauh berbeda dengan sejarah masa kecilnya di tengah ladang tebu yang menuntunnya mengenali dan memahami dunia. Tak ayal, ketika berada di Hongkong dia harus memulai lagi belajar sisi dunia yang sama sekali belum pernah menjadi pengalaman hidupnya. Hanya satu yang Sekar tetap pertahankan, yakni membahagiakan keluarganya. Kedua orangtuanya dan satu kakak perempuannya.

Di Hongkong yang berpendar-pendar cahaya lampu bisa menjadi obat rindu kepada kunang-kunang di gelap malam, berdiri bersusun-susun megah gedung tinggi bisa dia coba jadikan pengobat kangen kepada pohon-pohon besar dan hamparan ladang tebu nan hijau. Namun, kasih sayang sang ayah dan perhatian sang ibu sulit sekali dia temukan gantinya. Meski demikian, terlatih sejak kecil untuk mandiri dan tidak gampang mengeluh. Maka kepada orang tuanya dan kakaknya sekalipun, dia tidak ingin

membagi cerita sedih, yang dia ingin bagi adalah kebahagiaan. Pekerjaan dia sebagai TKW memungkinkan Sekar untuk bisa terus mengirimkan uang kepada keluarganya di Indonesia. Hari-hari baru selama di Hongkong dia jalani seperti halnya teman-teman baru sesama TKW di sana.

Sesungguhnya apa yang Sekar dapatkan tidaklah terlalu buruk, bahwa dia mendapat gaji yang tetap dan sesuai perjanjian sebelum dia berangkat. Namun sesuai perjanjian juga bahwa selama tujuh bulan pertama dia bekerja, gajinya belum dibayarkan selama tujuh bulan guna membayar ganti kepada penyalur yang mengirimkan dirinya ke Hongkong. Hanya perasaannya yang begitu menggebu untuk bisa segera dapat membahagiakan orantuanya maka dia mengambil satu tindakan kecil yang berakibat fatal. Sekar meminjam uang kepada rentenir dan persoalan dimulai semakin bertubi.

Hal Sekar yang alami ikatan utang-piutang yang hampir-hampir sulit untuk diselesaikan. Dalam bulan-bulan pertama dia masih sering mengabarkan keadaan kepada keluarganya. Namun pada satu saat dia tidak lagi mengabarkan keadaannya kepada keluarga, ini berlangsung hingga beberapa bulan. Tentu sang orang tua merasa khawatir tentang keadaan anaknya. Apalagi sang ayah yang sesungguhnya menjadikan kabar dari Sekar sebagai pengganti kehadiran sang putri kesayangannya.

Apa yang Sekar alami adalah satu warna saja persoalan yang dihadapi TKW Hongkong, beberapa teman Sekar punya persoalan yang berbeda-beda. Ada yang kondisi keuangannya terus menipis karena dipeloroti oleh kekasih dari Pakistan yang mukanya mirip dengan bintang film Bollywood. Ada juga yang mengalami kisah asmara antar jenis yang awalnya hanya sekadar naluri kerinduan terhadap kehadiran pasangan hidup. Berbagai peristiwa ini terekam dalam Film Minggu Pagi di Victoria Park.

Namun dalam film ini tokoh Sekar menjadi tokoh yang membawa alur cerita dengan apik karena dia bersinggungan dengan tokoh-tokoh yang lain. Sukardi, ayah Sekar dalam keadaan yang sudah diliputi rasa rindu, dan khawatir yang mendalam akhirnya meminta kakak perempuan Sekar yang bernama Mayang untuk bertekad mencari tahu kondisi adiknya. Mayang (Lola Amaria) ingin mencari tahu dimana dan bagaimana keadaan adiknya yang sebenarnya. Dengan cara yang sama Mayang berangkat ke Hongkong sebagai TKW. Mayang sesungguhnya tidak pernah tergiur untuk menjadi TKW karena dia lebih senang hidup di kampung dengan kebutuhan secukupnya dan tidak menambah persoalan bagi siapapun. Namun keputusan dia kali ini harus diambil sebab dia tidak bisa membiarkan segala sesuatunya tidak jelas. Karakter Mayang yang bertanggung-jawab terkadang mengalahkan jiwa kewanitaannya yang sederhana dan lembut. Mayang terkadang melakukan pekerjaannya dengan penyelesaian di luar dugaan.

Sekarang pekerjaan yang dihadapi Mayang bukanlah persoalan yang ringan. Tidak hanya sebagai babu yang hidup kepada satu keluarga di Hongkong namun juga mengemban tugas nuraninya untuk membuat segalanya berakhir dengan jelas, apapun itu. Menyenangkan ataupun Menyedihkan. Seperti apakah yang akan Mayang lakukan, apakah Sekar bisa ditemukan? Apa juga yang akan terjadi dengan teman-teman TKW yang tidak juga bisa disebut tanpa persoalan? Lantas apa yang akan terjadi pada taman di Hongkong tempat mereka berkumpul di Minggu Pagi. Mayang bukan anggota badan intelegen bahkan dia hanya tamatan SD, modal apa yang dia gunakan untuk menjawab semua ini? apakah dengan keajaiban atau kemanusiaan masih bisa menjadi jawaban atas pemecahan terhadap sebuah peristiwa.

Mengapa Victoria Park?

Film ini dikerjakan hampir dua tahun, sejak riset, persiapan produksi sampai proses-proses akhir produksi. Pic[K]Lock sangat tertarik dengan isu tenaga kerja di Hongkong, karena fenomena bahwa ternyata Victoria Park dipenuhi perempuan-perempuan Indonesia.

Semakin diselami, bisa disaksikan bagaimana perempuan-perempuan Indonesia berupaya mengembangkan dirinya, meningkatkan berbagai kapasitas yang terkait dengan kemampuan atau ketrampilan yang harus mereka kuasai, relasi di lingkungan kerjanya,—tak kalah penting upaya-upaya mereka mempertahankan martabatnya sebagai perempuan Indonesia.

Fenomena dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Hongkong serta sisi-sisi kehidupan TKW yang berasal dari Jawa Timur (karena mayoritas TKW berasal dari jawa Timur) olah Pic[K]Lock diangkat dalam repertoar Minggu Pagi di Victoria Park (MPdVP).

Bangunan cerita MPdVP memang berasal dari kejadian-kejadian dan fenomena yang sangat nyata (realitas), namun dikemas menjadi cerita fiksi, bukan dokumenter, hal ini dimaksudkan agar pelajaran kehidupan yang dialami oleh para perempuan Indonesia di Hongkong mampu menembus ke ranah yang lebih luas. Fenomena dan peristiwa-peristiwa yang bobotnya sangat berat dengan kemasan yang menarik diharapkan dapat mudah dicerna sekalipun oleh masyarakat awam—MPdVP dapat berfungsi sebagai media pendidikan namun sama sekali tidak menggurui.

Sejak awal Pic[K]Lock yang dimotori Oleh Dewi Umaya dan Noe Letto (keduanya sebagai produser) MPdVP mengorientasikan film ini agar dapat dicerna oleh khalayak luas dan terutama bagi mereka yang ingin manjadi pekerja di Hongkong khususnya, dan di negara-negara lain. Maka rancangan dalam film ini selalu mengetengahkan dimensi apa yang sebaiknya harus mereka persiapkan sebelum meninggalkan negeri kita, karena mereka akan menghadapi persoalan A sampai dengan Z di negera yang akan mereka tuju.

Disadari bahwa memilih media layar lebar yang salah satu targetnya MPdVP beredar di jalur distribusi mainstream sekaligus produksi MPdVP juga dapat menjadi media pendidikan bagi masyarakat memang tidak mudah, namun Pic[K]Lock berusaha untuk menjawab tantangan itu—sehingga MPdVP tidak hanya sekadar menjadi film salon, hanya dikenal oleh khalayak tertentu saja, namun sebaliknya dapat berfungsi, dan berdaya guna menjadi media yang mampu menelusup ke seluruh lapisan masyarakat mengabarkan tentang potensi dan problematika yang harus dipahami oleh khalayak luas. Karena bagaimanapun para TKW telah berperan besar bagi keluarga, lingkungan, maupun negara. Ada beberapa hal yang menarik dari tim peneliti Pic[K]Lock selama proses pre produksi film.

DATA yang diperoleh Pic[K]Lock

Tenaga Kerja Indonesia tersebar di 30 negara menyumbang pemasukan bagi negara total di tahun 2009 US $ 6.615.718.900,56

Jumlah  TKI yang bekerja di luar negeri  sekitar 8.739.046 Jika masing-masing menanggung 5 orang anggota keluarga di kampung halamannya, maka Lebih dari 40 juta jiwa penduduk Indonesia mengantungkan nasibnya pada mereka. Setara dengan  5 kali penduduk Jakarta.

97,2% tenaga kerja Indonesia di Luar Negeri adalah perempuan, jika separuhnya adalah ibu rumah tangga yang memiliki 2 orang anak, maka ada sekitar 8,5 juta anak Indonesia yang tidak merasakan dekapan ibunya.

Lebih dari 4,2  juta keluarga yang menggantungkan hidupnya pada anak perempuan ataupun istrinya yang bekerja sebagai tenaga kerja di Luar Negeri 66% tenaga kerja Indonesia di luar negeri bekerja di sektor informal. Nyaris semuanya adalah perempuan yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga.

Sabrang Mowo Damar Panuluh & Dewi Umaya Rachman

Pic[K]Lock Productions
Jl. Cipete Dalam no 37 Jakarta Selatan 14410
Telp    : +62 21 75904958
Fax    : +62 21 75816322
Email   : minggupagidivictoriapark@yahoo.com


Posted by: athar | 22 May 2010

Transkrip Kuliah Umum Sri Mulyani 18 Mei 2010

Dengan kalimat-kalimat ini, Sri Mulyani pamit: “Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang.” Saya rasa ia sungguh-sungguh sudah menang!

===
Kuliah Jeng Sri: Kebijakan Publik dan Etika Publik (18 Mei 2010)
(mungkin berguna bagi yang tidak menghadiri langsung acara di pacific place)

Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’, selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas…… (tepuk tangan)

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.

Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.

Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.

Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.

Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.

Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.

Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.

Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.

Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan ‘kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?’

Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.

Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2) Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus langsung…. (ada air putih langsung datang diiringi ketawa hadirin).

Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.

Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.

Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata ‘bau’nya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih. Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.

Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.

Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. “Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri.” Biasanya mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu. Saya menetri boleh semuanya termasuk mecat saya.

Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.

Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.

Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.

Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.

Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.

Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Merek emngkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan ‘Ini adalah panggung politik bu.’

Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability karena saya tidak tahu karena kepada angota dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari…? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, “Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar.” Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanya an mereka.

Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu, “Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama saja. ” Tapi kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat. Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.

Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten.

Nah, oleh karena itu, didalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.

Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. HAri pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don’ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.

Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya kebangetan aja anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.

Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah background nya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa’ semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya?i drop my job atau apa..bengong itu.

Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang menimport adalah perusahaannya dia.

Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga. Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.

Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementrian keuangan. Kebetulan mereka adlaah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, “Mba ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu.”

Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti ‘Lihat saja Sri Mulyani, neolib.’

Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.

Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota , propinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.

Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan sya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.

Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.

Pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan struktur yang membentuk awalnya. KArena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal.

Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadibagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.

Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal. red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan tepuktangan)

Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).

Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah.

Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti.

Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.

Karena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan ktia juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.

Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah. YAng sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.

Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, “Jangan pernah putus asa mencintai republik.” Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.
Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.

Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.

Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.

Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain. Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin pak marsilam?Wong semua orang dimarahin duluan sama dia.

Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik. SAya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik dengan century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.

Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.

Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)

Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih

(standing applause meriah sekalee)

Posted by: athar | 8 April 2010

Sejarah APRIL MOP

April Mop

Pada tanggal 1 April orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.

Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop, yang hanya berlaku pada tanggal 1 April, adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orang tua, saudara, atau sejenisnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop.

Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.

Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.

Tahukah anda, bahwa perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu, sesungguhnya berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan ???

April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487, atau bertepatan dengan 892 H. Sejak dibebaskan Islam pada abad ke- 8M oleh Panglima Thariq bin Ziyad,Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur.

Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Got dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya.

Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur’an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai Pasukan Salib . Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak muslim Granadayang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granadadan berlayar meninggalkan Spanyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granadakeluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan Salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka.

Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara Salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib segara membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat Kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka .

Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

[***]

sayangnya Kisah diatas adalah Sejarah di atas, nampaknya TIPUAN juga hahahahahahahahahahaha…..

(kalau tidak percaya, silakan googling dengan keywords “april’s fool day history” )
atau coba baca ini: http://www.museumofhoaxes.com/hoax/Hoaxipedia/April_Fools_Day_-_Origin/ )

ok. selamat TERTIPU….

Posted by: athar | 21 August 2007

Novel Saman, Partikulasi Seorang Pembaca

oleh Norpud Binarto.
… the birth of the reader must be at the cost of the death of the author. (Roland Barthes, Image, Music, Text)

Ketika memahami karya seni, seorang apresian dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa dirinya tidak berdiri tunggal sebagai penafsir. Pembaca mempunyai kemungkinan melakukan penyelewengan hasrat dari penulisnya. Penyelewengan itu kemudian dikenal dalam kajian tafsir (hermeneutik) sebagai interpretasi. Karena itu, tidak mengherankan jika apresian mempunyai keluasan tafsir untuk memproduksi makna-makna baru.

Adalah filosof Henri Bergson yang memecahkan rahasia itu melalui pendekatan durasi (duration). Katanya, pengertian waktu ditentukan oleh pengertian ruang. Karenanya, pembaca teks ditentukan oleh aspek kuantitatif dalam waktu. Dengan demikian proses penjelajahan teks merupakan pengalaman subyektif-psikologis.

Karena itu, secara fundamental hakekat tafsir berhubungan erat dengan motif-motif kesadaran pembaca. Proses tafsir tersebut, pada gilirannya, berhubungan erat dengan upaya transendensi mengenai hakekat ada — meminjam pendapat Jean Paul Sarte — semacam self-consciousness (kesadaran diri). Aspek ada sangat signifikan untuk menandai kesadaran seseorang dalam menegasi teks yang ditawarkan.

Kerangka metodologis tersebut merupakan being-for it self (ada bagi dirinya). Karena itu, seseorang tidak dapat diasalkan pada hakekat keberadaan orang lain. Tindak apresiasi merupakan proses intensional. Semacam kesadaran akan teks (sesuatu), atau bagian dari kesadaran akan dirinya sendiri. Lalu, apa pentingnya hakekat ”membaca” seperti ini? Alasannya, proses membaca tak menjamin ketertundukan pada teks.

Pembaca menciptakan kehadiran dirinya, seperti laiknya penulis menyodorkan gugus gagasannya sendiri. Kesetaraan tersebut merupakan sikap apresian dalam membangun pemaknaan-pemaknaan baru. Membaca merupakan penciptaan, sekaligus bagian dari petualangan-petualangan baru. Maka aku yang membaca adalah aku yang berkelainan. Metodologi tersebut memungkinkan kerja baru, yang disebutkan oleh Sarte sebagai transfenomenal, semacam kesadaran akan sesuatu yang hadir akibat dari pertemuan-pertemuan.

Persoalannya, apakah dengan sendirinya metoda tersebut mampu melahirkan realitas baru? Benarkah dengan pendekatan aku yang membaca dan aku yang hadir mempunyai hubungan dengan pembebasan tafsir? Menurut hemat penulis, faktor yang membentuk kebebasan apresiasi ditentukan oleh dugaan imajinasi atau semacam prasangka-prasangka eksperensial. Yang dimaksudkan dengan prasangka eksperensial adalah pengalaman estetik seorang pembaca terhadap teks yang dihadapinya (Hermeneutik dan Kritik Seni, I Bambang Sugiharto).

Berdasarkan pijakan semacam itu saya mencoba membaca serta melakukan pilihan subyektif terhadap novel Saman karya Ayu Utami. Dengan begitu, selalu ada kemungkinan untuk mereduksi, melakukan pilihan atau membuat pola persepsi baru.

Sejarah di Balik Teks

Bagaimana mungkin seorang pengarang dapat menulis begitu indahnya? Itulah pertanyaan banyak orang manakala menyelesaikan sebuah bacaan. Sebagian menyatakan hal itu bisa terjadi dikarenakan kemampuan penulis menjelajah meta-komunikasi.

Namun, bagaimana hal itu bisa terjadi? Bahasa bukan sekadar perahu yang mengantarkan pikiran seseorang melalui kata-kata. Gaya, mode berbahasa, atau pilihan komposisi bahasa, merupakan bagian dari rajutan tanda dalam makna. Dengan demikian, setiap tanda yang dipilih merupakan setting sejarah seorang penulis. Masalahnya, pandangan semacam itu tidak selalu mencerminkan kemampuan penulis dalam mengungkapkan rahasia bahasa.

Misteri bahasa merupakan bagian dari jejak kerja sejarah pribadi yang bersifat partikular. Dengan demikian, ketakjiman penggunaan bahasa menyerupai manifesto personal. Tepatnya, semacam hubungan timbal balik antara kemampuan kerja personal dengan bentuk-bentuk sejarah formal yang menciptakan situasi-situasi penulisan.

Dengan begitu, gaya bahasa seorang penulis merupakan refleksi pribadi yang disaring melalui sistem nalar. Tepatnya, setiap bentuk penalaran terwujud melalui level penulisan tertentu. Namun demikian, seperti sudah saya katakan tadi, unsur penyaringan gaya dan nalar pengucapan tidak luput dari situasi dan penerjemahan atas ide yang melingkupinya.

Karena itu, kerapkali gaya atau pilihan ungkapan merupakan bagian dari penyaringan moral umum yang dikonversi melalui kepentingan personal. Persoalannya kemudian, siapa yang bisa menjamin bahwa gaya ungkapan merupakan refleksi kenyataan umum? Sangat boleh jadi gambaran semacam itu merupakan upaya dari pembentukan formasi-formasi gagasan. Dengan kata lain, setiap bentuk baru merupakan distorsi terhadap formasi penulisan.

Karena itu pula aktivitas penulisan kreatif merupakan proposal yang mempengaruhi sistem nalar seorang penulis. Dengan begitu perahu bahasa merupakan korpus dari preskripsi seorang penulis dalam suatu faset tertentu. Artinya, seorang penulis merupakan bagian yang tak terpisahkan dari residu dari beragam wacana. Maksudnya, ekspresi penulisan merupakan rangkaian pertanyaan mengenai: siapa dirinya, dimana dia berada, apa yang mendasari kepercayaannya dan untuk apa tujuannya menciptakan sesuatu.

Karenanya, tak cukup alasan apabila keindahan penulisan semata dikarenakan nalar spontanitas seorang pengarang. Penulisan merupakan wujud pertemuan-pertemuan — melalui susunan kata dan runtutan bahasa-bahasa pembaca dan pengarang. Dan, kesetaraan itu menegasikan keseimbangan persepsi dalam kegiatan membaca. Kuasa penulis hadir bersamaan dengan kuasa pemaknaan pembaca. Pembentukan persepsi merupakan mata rangtai dari penelusuran beragam narasi antara penulis dengan pembaca.

Berpijak dari kesataran tersebut, pada dasarnya, pembaca adalah juga pencipta narasi. Suatu interpretasi merupakan pengalaman memasuki wilayah tersembunyi atau disembunyikan. Maka, tidak cukup mengherankan apabila seorang mempunyai kewenangan untuk memilih, memilah-milah dan menentukan sudut pandang dalam menafsirkan karangan. Dengan cara kerja seperti itu, setiap bentuk karangan menyerupai sebuah rumah dengan banyak pintu. Pembaca berhak memasuki wacana dari sebuah bacaan, sesuai dengan pilihannya sendiri. Pembaca bukanlah orang yang terpenjarakan. Pembaca adalah pencuri yang bijak. Karena, setiap ia mengambil sesuatu dalam teks bacaannya, maka ia akan meninggalkan makna dalam rumah yang ditinggalkannya itu.

Bila novel Saman karya Ayu Utami kita andaikan sebuah rumah, maka pembaca bisa masuk dari mana saja. Dengan corak penulisan non-linier dan bersifat anti-struktur, kelihatannya wilayah untuk memasuki tema-tema menjadi sangat terbuka. Semisal, penulis memasuki wacana yang ditawarkan Ayu Utami bersandarkan pada kesadaran dekonstruksi atas gender. Tokoh-tokoh yang ditampilkan merupakan representasi dari kesadaran penulisnya; tentang ketidakseimbangan perlakuan terhadap kedudukan perempuan. Shakuntala, Yasmin dan Laila mencerminkan sebuah pandangan baru mengenai peran yang diperjuangkan oleh penulis novel ini:
“…. Sebab bagiku hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh. Seperti Tuhan baru meniupkan nafas pada hari keempatpuluh setelah sel telur dan sperma menjadi gumpalan dalam rahim, maka ruh berhutang pada tubuh….”

Pikiran yang berawal dari kesadaran tubuh semacam itu, menurut pendapat penulis, merupakan cara untuk memperjelas kembali posisi individu di hadapan kekuatan publik. Dengan demikian, kuasa tubuh dimulai dari pembebasan kuasa yang diobyektifikasi. Shakuntala membangun kesadaran personalnya melalui tubuh di tengah-tengah peruntukan sosial. Ungkapan hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh merupakan manifestasi kesadarannya dalam menghadapi ragam kepatuhan yang menindas tubuh.

Hal itu mempunyai hubungan dengan pernyataan lain dari Shakuntala, terutama hukum sosial yang membentuknya:

” Tak ada kemarahan yang perlu diawetkan seperti dendamku pada bapak. Juga tak ada cinta yang tahan lama seperti manisan dalam botol selai. Semuanya seperti tomat: menggemaskan hari ini, lalu layu beberap hari lagi….”

Pengertian bapak mempunyai pemaknaan plural. Bapak dan cinta merupakan hubungan kuasa yang tak seimbang. Oleh sebab itu, Shakuntala tidak sedang melakukan pembongkaran tubuh pribadi. Terdapat dimensi yang luas di balik penggunaan metafor bapak. Sehingga, dalam penempatannya, bapak merupakan sosok yang harus diberontaki — mungkin dilawan dan ditinggalkan sama sekali.

Karena itu, bentuk perlawanan yang dinyatakan Shakuntala merupakan upaya-upaya untuk meninggalkan formasi umum mengenai kuasa bapak yang hegemonik. Pasalnya, representasi bapak — yang berjenis kelamin laki-laki — tidak hanya menghancurkan keberadaan tubuh.

Lebih dari itu, pengertian bapak mencerminkan sistem nalar patriarki — dalam sejarahnya selalu mengasingkan kedudukan perempuan dengan tubuhnya. Bahkan, dalam beragam bagian, ada semacam dendam yang tak termaafkan. Penegasannya untuk pergi tercermin pada pembebasan seperti ini: …aku tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Hal ini menunjukan peran dan kedudukannya di tengah-tengah moral sosial yang dipersepsikan oleh tokoh Shakuntala.

Wacana tubuh

Perkara Shakuntala bukan sekadar ungkapan tubuh secara personal. Tubuh personal berhadapan langsung dengan sistem kontrol sosial. Dengan kata lain, ia tidak sedang berhadapan dengan kesadarannya sendiri. Shakuntala telah menawarkan wacana; mengenai tubuhnya yang terbebas dari berbagai ketentuan-ketentuan. Mungkin semacam dekonstruksi. Bisa juga, semacam pemberontakan terhadap nalar laki-laki — yang menginjak-injak kepalanya sendiri.

Karena itu, dalam menafsirkan novel Saman karya Ayu Utami, penulis tidak terpukau pada keelokannya dalam memilih diksi atau ketajamannya dalam penggunaan gaya bahasa yang sangat terperinci. Lebih penting lagi, paradigma apa yang patut kita persoalkan dan hendak kita cermati?

Dengan begitu, klarifikasi terhadap gagasan, jelas lebih menarik. Pembaca dapat memberi catatan-catatan — guna menegasikan pikiran-pikiran yang terkandung di balik pernyataan-pernyataan. Sebab, dalam novel ini, yang terpenting bukan hanya pada ungkapan. Pasalnya, banyak persoalan yang selama ini bisa dianggap sangat sensitif, ternyata dapat disampaikan secara jernih dan mempunyai dasar pijakan kuat.

Tokoh Wisanggeni mencerminkan sebuah cakrawala; yang menghubungkan posisi manusia dengan Tuhan dan hubungannya dengan lembaga keagamaan yang menaunginya:

“…… di kamar tidur pastoran, kegelisahan membolak-balik tubuhnya di ranjang seperti orang mematangkan ikan di penggorengan. Ia telah melihat kesengsaraan di balik kota-kota maju, tetapi belum pernah ia saksikan keterbelakangan seperti tadi siang. Di Bantargebang manusia hidup bersama sampah-sampah Jakarta yang kaya dan rakus, dan orang-orang gila bisa berjalan-jalan di Taman Suropati yang rapih dan teduh. Tetapi, hanya tujuh puluh kilometer dari kota minyak Prabumulih, seorang gadis teraniaya, bukan sebagai ekses keserakahan melainkan karena orang-orang tak mampu mencapai kemodernan. Sementara itu aku hanya bisa berbaring di kasur ini?…. ”

Pergulatan pemikiran yang ditawarkan Wisanggeni merupakan kesadaran (akan) dirinya, karena dirinya tidak sama dengan pengalaman (di luar) dirinya. Dengan demikian, diri Wisanggeni merupakan obyek pengenalan, untuk mencapai tahapan yang disebut oleh Sarte sebagai kesadaran non-tematis. Kesadaran mengenai orang-orang miskin di Bantargebang, Taman Suropati dan Prabumulih merupakan kesadaran yang membonceng pada kesadaran lingkungannya. Karena itu, kontradiksi yang ditawarkan tidak bergerak pada tataran pengenalan, melainkan suatu hubungan pada suatu keberadaan dirinya sendiri.

Sirkum perspektif semacam itu merupakan kuasi awal dari kesadaran sosial yang berseberangan dari tokoh Wisanggeni. Atau semacam memihak pada tahap melihat (akan) — belum sampai tahap pergolakan. Lain halnya, ketika tokoh Wisanggeni telah memasuki wilayah yang sebelumnya disebut akan. Ia bersetubuh dengan kenyataan ada bagi dirinya sendiri (being-for-it self):

Senin pekan berikutnya Wis kembali ke Lubukrantau untuk menyelesaikan rumah Upi. Sejenak gadis itu kesilauan karena curah cahaya yang berlimpah, yang tak ia dapatkan dalam bilik lamanya yang pengap. Lalu ia mondar-mandir seperti hewan menyesuaikan diri dengan kandang di taman safari.

Langkah memasuki persoalan oleh Sarte dinyatakan sebagai deveneu (kebenaran telah dijadikan). Dengan kata lain, peran Wisanggeni memasuki tema-tema, merupakan bagian dari kesadaran untuk menjawab hubungan-hubungan dialektik antara subyek dengan lingkungan. Representasi yang dicerminkan oleh Wisanggeni merupakan upaya memasuki persoalan-persoalan.

Jika pemaknaan sikap Wisanggeni kita artikan sebagai tindakan untuk membongkar pola hubungan vertikal, maka yang mewujudkannya bukanlah kedudukan kelembagaannya. Perubahan orientasi yang ditawarkan merupakan pengubahan ordo religius menjadi beberapa perubahan. Tepatnya, berupa orientasi bagian demi bagian terkecil dari kesadaran pelembagaan disiplin yang baku. Cara yang ditempuh Wisanggeni bukan hanya berhubungan pada kesadaran tubuh(nya). Kesadarannya merupakan praktik diskursif berdasarkan perspektif geneokologis tentang makna-makna religiusitas. Katanya, ”Saya sama sekali tidak bermaksud menyepelekan gereja. Saya cuma tak bisa tidur setelah pergi ke dusun itu.”

Penegasan tersebut memperlihatkan proses penegasian ulang terhadap makna kasih secara kelembagaan. Langkahnya, untuk terjun di perkebunan karet rakyat, merupakan kontektualisasi makna kasih — dalam perpektif kepatuhan tubuh terhadap mekanisme disiplin kelembagaan (gereja).

Tetapi, di balik penalaran yang dimaksud oleh penulis novel ini, kerapkali sebuah teks membawa konsekuensi tersendiri bagi pembacanya. Dengan kata lain, konsekuensi yang dimunculkan, yang oleh Barthes disebut sebagai fear of the self contradiction. Karena dalam berbagai bagian, dapat saja diartikan sebagai proses eliminasi atas sense. Pasalnya, pembaca membawa sistem makna atau semacam status diskripsinya sendiri.

Perbedaan menafsirkan teks, memang, tak dapat dihindari. Karena, tiap bentuk penjelajahan atas teks merupakan kerja produksi imaji yang galibnya didorong oleh mekanisme komunikasi bersifat inkomunikatif. Hal tersebut merupakan pola kerja narasi yang dibentuk oleh kemampuan seseorang dalam membuahkan sistem nalar persepsional. Sehingga, injeksi teks, pada hakekatnya, merupakan refleksi ”pengkayaan”.

Fokus yang ditawarkan oleh pembaca merupakan penambahan konvensi dan modus sense atau semacam kerja interpretasi partikular (interpretation of work). Dan hal itu, menjadikan teks makin memberi pengharapan. Tepatnya, kerja interpretasi merupakan proses internalisasi kesadaran partikular. Problemnya, bagaimana interpretasi pembaca itu dapat dikatagorisasi sebagai kerja produksi narasi-narasi?

Ada beberapa pandangan yang bisa dipergunakan, antara lain disebutkan; apakah model interpretasi pembaca, pada gilirannya, mampu mencapai suatu tahapan work out for himself. Dengan lain perkataan, apakah sebuah karya mampu membangkitkan kerja relasi imaji-imaji partikular yang bebas?

Dalam beberapa bagian novel Saman mampu mewujudkan tujuan tersebut di atas. Pembaca dapat menafsirkan kerja novel ini secara terbuka. Bahkan sebagian apresian berkemungkinan untuk menolak penyelesaian-penyelesaian yang ditawarkan. Pada bagian lain, pembaca dapat pula memaklumi bahwa apa yang dilakukan oleh Wisanggeni merupakan sekuensi atas pemecahan masalah-masalah.

Kegelisahan partikular itu dapat kita cermati dalam pemaparan berikut ini: Kadang saya merasa muram teringat rumah asap yang saya dirikan bersama teman-teman ….

Dimensi personal yang kelam, tentu saja, memunculkan kesadaran manusiawi yang dalam. Rumah asap yang dibuat Wisanggeni bersama penduduk di perkebunan karet rakyat merupakan gambaran pemihakan personal. Dan, hal itu, sangat boleh jadi, tidak ada kaitan dengan kedudukannya sebagai pastor. Demikian pula terhadap cara pemberontakannya terhadap Tuhan. Ketertekanan atau rasa putus asa telah mengkondisikan dirinya untuk bertanya, menggugat dan menggugat eksistensi dirinya.

Namun, pada bagian lain, gugatan-gugatan itu ia jawab sendiri: <IBarangkali karena itulah kita, dalam misa, selalu mencoba kembali dan mengenang sengsara Tuhan untuk terus menerus mengalaminya. Menginternasilsasinya.<I Dengan kata lain, pertanyaan-yang kerap diartikan banyak orang sebagai perlawan — hakekatnya merupakan proses berkesadaran kritis. Pertanyaan-pertanyaan Wisanggeni merupakan perwujudan dari kegelisahan transenden. Tepatnya, semacam pemaknaan baru akibat perbenturan-perbenturan idealisasi dengan kenyataan-kenyataan sosial yang dihadapinya.

Akan tetapi, di luar pengertian tersebut, pembaca tetap memiliki otoritas sendiri untuk memproduksi makna-makna. Gugatan tokoh-tokoh dalam Saman memberi kemungkinan penghujatan. Karenanya, sejauh tidak dipahami secara kritis, kemungkinan asal tafsir bisa terjadi. Oleh sebab itu, saya menyetujui anggapan bahwa menyangkut penafsiran teks, yang terpenting adalah menterjemahkan kembali kontradiksi-kontradiksi menjadi narasi-narasi. Kontradiksi merupakan pertanda kerja persepsi yang aktif kreatif.

Feminisme

Perihal yang menonjol dalam novel Saman adalah kuatnya basis ideologi feminisme. Basis penolakan terhadap cara pandang patriarkis terasa sangat menonjol — dan mencapai tahapan pemikiran yang mendasar. Wacana yang ditawarkan bukan hanya menyangkut kesadaran eksistensial, lebih dari dapat dinyatakan berupa gugatan pemeranan tubuh perempuan dalam sistem sosial yang mempengaruhinya.

Dengan cara kerja kreatif semacan itu, saya pikir gagasan dasar yang ditawarkan oleh Ayu Utami dapat mencapai tahapan pemahaman diskursif –dalam bentuk produksi pernyataan-pernyataan. Karena itu, tidak begitu mengherankan apabila kesan yang saya tangkap dari tokoh-tokoh yang ditampilkan selalu berdiri secara ambigu. Sikap memberontak terhadap praktek-praktek pembatasan obyek-obyek, pembongkaran-pembongkaran atas definisi-definisi dan atau upaya untuk keluar dari legitimasi pengetahuan-pengetahuan serta penetapan atas norma-norma terkesan sangat radikal.

Pada bagian lain, saya melihat pola penelusuran wacana dengan menciptakan hubungan interpersonal, besar kemungkinan, merupakan cara penulis novel ini untuk mencapai tahapan yang disebut oleh Foucault sebagai bentuk keprihatinan dalam melihat seri fakta-fakta. Artinya, setiap bentuk kejadian merupakan bagian dari seri yang di dalamnya mempunyai varian akhir dan varian awal. Dengan demikian, tiap fakta merupakan jaringan-jaringan yang melukiskan hubungan-hubungan antar fakta.

Hal itu bisa kita lihat melalui cara kerja pembentukan konstruksi dalam novel ini. Setiap fakta dibiarkan muncul sebagai fakta atas persoalan-persoalan tokoh per tokoh. Sehingga, meminjam pendapat Habermas, metoda kompilasi fakta-fakta merupakan cara kerja menampilkan dokumen-dokumen yang tak terucapkan. Misalnya, menyangkut hubungan antar pemeranan perempuan dalam menghadapi tekanan hegemoni budaya laki-laki. Secara transparan tokoh-tokoh itu diklarifikasi melalui perspektif dan penafsiran Shakuntala:

” Sekarang dia pacaran dengan suami orang. Laki-laki yang biasa dengan hubungan seks. Aku dan Cok bertaruh melawan Yasmin bahwa pria ini tak akan tahan hanya mencium terus-terusan…… ”

Demikian persepsi yang diciptakan Shakuntala dalam menghadapi hubungan antara Laila dengan Sihar. Seksualitas melekat dalam diri Sihar (yang sudah beristri itu). Namun demikian, pengarang novel ini tidak membiarkan kenyataan terjadi. Laila dibiarkan hidup dalam kemenduaan (ambigu). Seksualitas dibiarkan hidup sebagai pasion. Oleh sebab itu, menunggu kedatangan Sihar di Central Park adalah cara yang terbaik untuk memperjelas ciri moral yang hendak ditawarkan. Menunggu tidak hanya menjadi ciri atas keterbatasan seorang perempuan. Lebih dari itu, menampilkan kegamangan atau semacam kegagalan dalam memberontak dari keperkasaan hegemoni laki-laki. Namun, pada bagian lain, melalui tokoh Shakuntala, Ayu Utami mempertegas basis ideologi perempuan:

” Namaku Shakuntala. Orang Jawa tak punya nama keluarga….”

Atau, dalam ungkapan lain seperti ini:

Namaku Shakuntala. Ayah dan kakak perempuanku menyebutku sundal. Sebab aku telah tidur dengan beberapa laki-laki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran. Kakak dan ayahku tidak menghormatiku. Aku tidak menghormati mereka. Sebab bagiku hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh.… ”

Dasar pemikiran seperti itu, buat sementara orang, mungkin, sangat sulit dimengerti. Atau, semacam upaya mencari efek penulisan saja. Tetapi, sesungguhnya, melalui tokoh seperti Shakuntala, posisi ideologi yang dipilih sangatlah jelas. Di sini yang menjadi persoalan bukan lagi keberadaan perempuan dalam menghadapi tatanan sosial yang dominan dan menindas. Lebih dari itu, memperjelas bagaimana sesungguhnya tubuh (perempuan) seharusnya diposisikan dalam kerja sosial yang sedang berlaku.

Shakuntala menolak semacam pengertian tubuh sebagai medium atau instrumen penyiksaan kultural. Prosedur yang ditawarkan bukanlah dengan menciptakan keterbatasan-keterbatasan, menyangkut hubungan darah, tokoh ini menolak keberadaan seperti itu dalam pernyataan: ” Aku tak menghormati mereka (Ayah dan kakak) “, atau dalam ungkapan lain berupa kalimat: “Aku tidak suka Sihar…”.

Lalu, apa yang menghubungkan hal tersebut dengan pemeranan tubuh? Menurut hemat penulis, metoda penghukuman bersifat patriarkis adalah awalnya. Alasannya, saya pikir cukup jelas. Manakala seorang perempuan tidur dengan banyak laki-laki (terlebih dengan perempuan juga), maka yang terjadi adalah semacam anggapan adanya upaya merendahkan tubuh perempuan dalam wacana sosial. Tidak terpikirkan, kenapa laki-laki mempunyai keleluasaan untuk bersetubuh dengan banyak orang (perempuan/mungkin juga laki-laki). Sementara, hal itu tak berlaku bagi perempuan — seperti tercermin dalam ungkapan sundal pada tokoh Shakuntala.

Ketidakseimbangan membentuk sistem persepsi pada medium tubuh perempuan, merupakan pertanda awal pemberontakan-pemberontakan dalam novel ini. Misalnya, hal itu juga terjadi pada Yasmin, dengan malu-malu tak mengakui perzinahan, kemudian menikah dengan Lukas. Pada bagian lain, tokoh tersebut tak bisa menghilangkan imaji liarnya dengan pernyataan seperti ini:

Mungkin persetubuhan kita memang harus hanya dalam khayalan. Persenggamaan maya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana memuaskan kamu….”

Kemudian dalam ungkapan yang lain:

Aku terkena aloerotisme. Bersetubuh dengan Lukas tetapi membayangkan kamu. Ia bertanya-tanya, kenapa sekarang aku sering minta agar lampu dimatikan. Sebab yang aku bayangkan adalah wajah kamu, tubuh kamu.”

Pola kesadaran yang ditawarkan, jelas, merupakan upaya yang kuat untuk membalikkan kedudukan paralel antara posisi yang –selama ini– dianggap lazim.

Tetapi, pemberontakan itu berlaku sangat radikal dan tak terbayangkan bahwa hal itu bisa terjadi dalam penciptaan karya sastra Indonesia. Saya tak bisa memastikan, bahwa ini semacam lompatan kesadaran atau bagian dari ekspresi yang kuat-akibat represi kultural yang terus menerus diproduksi dalam sistem nalar manusia Indonesia terhadap tubuh (perempuan).

Kalau interpretasi saya itu benar, pertanyaannya kemudian adalah; kemana saja, selama ini, sastra (perempuan) Indonesia melakukan perwujudkan ekspresinya? Apakah sastra perempuan Indonesia, selang beberapa tahun, telah menempuh jalan hilang. Sehingga, terlalu sedikit untuk mencapai pemberontakan tubuh secara lebih radikal. Jika anggapan itu benar, maka represi atas tubuh perempuan pada dasarnya telah menyebar dengan lipatan-lipatan yang luas dalam sistem penalaran masyarakat kita. Selanjutnya, tubuh telah dibawa pada wacana kultural — yang sering disebut sebagai ketaatan yang ajeg dan tersembunyi.

Melalui cara itu, posisi represi tubuh telah menembus kuasa dirinya sendiri. Melalui cara yang dibentuk –tanpa berkesadaran– maka penguasaan atas tubuh telah dimanipulasi oleh otoritas-otoritas tradisi yang bersifat terberi.

Dengan kondisi kultural semacam itu, kerapkali, permakluman-permakluman terhadap represi tubuh (perempuan) berubah menjadi semacam resepsi sosial. Serangkaian kebiasaan mengalami bentuk pendalaman secara massal. Seperti anggapan bahwa tubuh (perempuan) semata-mata bekerja pada tahap fungsi-guna. Tidak berkepentingan untuk berkesadaran mengubah dan menolak anggapan-angapan kultural yang dominan.

Keberbedaan yang berlaku pada novel Ayu Utami justru terletak pada kesadarannya untuk menolak setiap bentuk nalar penindasan tubuh secara dominan. Dengan menempatkan posisi psikologis tokoh-tokohnya secara dominan, sepertinya novel ini ingin mempertegas kembali moral yang hendak ditawarkan pada pembacanya. Langkah pengelupasan posisi tubuh, sampai pada tahap paling radikal, merupakan cara terbaik untuk memutar kembali arah bandul jarum jam. Dengan kata lain, pembentukan peran Yasmin atau Shakuntala, sesungguhnya, merupakan bentuk penegasan kembali posisi paradok dari mereka.

Tentu saja, menyangkut landasan moral semacam itu, tidak dengan sendirinya mencerminkan suatu pandang partikular. Setting sosial yang melingkupi setiap peran yang ditampilkan merupakan kode dari kerja teks yang turut mempengaruhi sistem nalar penulisnya. Melihat cara kerja yang ditampilkan melalui tokoh-tokohnya, saya menduga novel ini disusun dengan kesadaran teoritik cukup memadai. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan metafor dan simbol-simbol yang melekat pada hakekat penafsiran setiap tokoh yang ditampilkan.

Bagi mereka yang akrab dengan pemikiran-pemikiran filosofis, tidak terlalu sulit menempatkan orang seperti Wisanggeni dalam perpektif pemikiran Sarte. Seterusnya, cara pandang Shakuntala dalam memperlakukan tubuhnya, sepintas dapat ditelaah melalaui cara kerja tubuh dan disiplin tubuh dari Michel Foucault. Pada bagian lain, beragam pertemuan metodologis, sadar atau tidak, telah menemukan muara pembahasannya dalam karya ini.

Saya tidak bisa memastikan, apakah penelusuran semacam itu bisa dibenarkan atau tidak samasekali. Lebih daripadanya, untuk dapat mencapai telaah secara mendasar, novel tersebut memberi kemungkinan untuk berhubungan dengan teks-teks lain di luar pengertian kesusastraan. Di sinilah sulitnya, sekarang ini kita semakin rumit untuk memilah-milah apakah karya sastra, semata-mata, hanya mengandalkan imajinasi. Atau ilmu pengetahuan, sesungguhnya, merupakan produk imajinatif yang dilegetimasi oleh dominasi pemeranan rasionalitas.

Kita tengah menghadapi tantangan. Kita tengah menghadapi pengujian-pengujian oleh keadaan ketegangan seni dan ilmu pengetahuan. Novel Saman telah memulainya. Yang lain? Entahlah.

Penulis adalah pemerhati sastra dan budaya, tinggal di Jakarta.

Posted by: athar | 21 August 2007

Berhala Jakarta: Semoga Sukses…

Ukuran sukses di Jakarta sudah terkontaminasi penyakit sosial yang parah. Reformasi mengubah pemerintahan, bisakah reformasi mengubah mentalitas?

Masih sangat sering saya mendengar ucapan “Semoga sukses”. Dalam benak saya berfikir, “Wah, kalau tidak sukses bagaimana?” Sangat sering saya mengamati pembukaan pameran, peluncuran buku, pemutaran film, bahkan acara diskusi yang mendapat kiriman karangan bunga segede gajah. Dalam karangan bunga itu biasanya juga terdapat tulisan “Selamat dan Sukses” atau “Semoga berhasil” atau juga lagi-lagi “Semoga Sukses”.

Kisah sukses di Jakarta adalah kisah sukses dengan ukuran-ukuran baku yang ajaib, alias tidak masuk akal. Kalau Anda seorang guru teladan yang berangkat ke sekolah untuk mengajar naik sepeda motor, yang mogok-mogok pula, kategori apapun sangat sulit menyebut Anda seorang yang sukses. Setelah menyetir selama 30 tahun, seorang supir mempunyai reputasi tidak pernah secuilpun menyerempet mobil lain, tidak pernah ditilang, tidak pernah terlambat, dan hanya membunyikan klakson dalam keadaan sangat terpaksa inipun tidak akan pernah dipuji sebagai sukses. Di Jakarta, kategori sukses ditakar melalui ukuran-ukuran yang kategorinya keliru.

Andaikan Anda diangkat jadi menteri. Meskipun Anda belum mulai bekerja, Anda sudah dianggap orang sukses. Jabatan Anda adalah sukses Anda, bahwa sebagai menteri Anda rada-rada bego, itu bukan persoalan besar. “Dia pernah jadi menteri” adalah ucapan yang menunjukan bahwa jabatannya jauh lebih penting dari prestasi kerjanya. Sedangkan dalam ucapan “Dia menteri yang jujur” kita memang mendengar penghormatan dan pujian, tapi sekali lagi bercampur rasa kasihan. Karena menteri yang jujur diterima sebagai menteri yang tidak mempergunakan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri, dan tidak mempergunakan kesempatan dalam ukuran-ukuran sukses Jakarta adalah suatu kebodohan.

Begitulah, sukses di Jakarta telah menjadi berhala. Kalau Anda tidak sukses dalam ukuran-ukuran ajaib itu: bukan direktur, tidak berdasi, datang naik bis, bekerja di perusahaan gurem, tidak doyan lasagna yang rasanya seperti sabun, selalu berkeringat, dan tidak bisa bahasa Inggris – seolah-olah Anda bukan manusia, atau tetap manusia tapi tergolong orang-orang kasihan. Tentu saja ini tidak benar, tapi Jakarta telah menjadi kota salah kaprah. Akan menjadi ajaib kalau di sampul depan majalah bisnis misalnya terpampang eksekutif bengkel mobil, meskipun ia bengkel mobil yang sukses, hanya karena eksekutifnya tidak berdasi, selain karena citra tukang dalam keahlian bermesin ria juga tidak merupakan representasi orang sukses.

Jakarta seolah-olah hanya menjadi tempat memburu kesuksesan. Orang yang dianggap tidak sukses, tidak didatangi, tidak disalami, tidak ditegur, tidak di lirik, apalagi diingat-ingat. Orang-orang tanpa kisah sukses, meski cuma sukses secuil-secuil, seperti tidak ada, karena hidup tanpa kesuksesan bukanlah kehidupan yang bermakna. Sedangkan ukuran-ukuran sukses sudah terkontaminasi penyakit sosial yang parah. Reformasi mengubah pemerintahan, tapi apakah reformasi mengubah mentalitas? Lihatlah undangan kartu perkawinan, sering kita lihat pejengan gelar yang campur aduk. Gelar akademis bercampur gelar darah biru maupun gelar agama. Padahal gelar-gelar tersebut tidak mempunyai relevansi apapun terhadap substansi perkawinan tersebut. Ini sebuah kondisi sosial budaya yang sangat sulit direformasi, karena hanya kesuksesan yang membuat manusia dianggap ada. Akibatnya, dalam kartu undangan perkawinan, kalu bukan Doktor, Raden Mas pun jadi.

Kesuksesan hanya berhubungan dengan prestise. Pemain sepakbola yang hebat diandaikan sukses karena dengan ketrampilanya ia menjadi kaya, sebaliknya pemain sepak takraw nomor satu di dunia pun tak akan pernah di lirik, karena sepak takraw tidak menempati posisi prestisius dalam hirarki sosial olahraga. Hirarki sosial ini menunjukan kekacauan persepsi kita. Perhatikan: tenis elit – tinju kampungan; squash elit – karambol kampungan; spa elit – jogging sok merakyat. Begitu pula dalam musik, jazz dan opera elit – dangdut kampungan. Semua ini menjadi kesalahan yang sebetulnya disadari, tapi juga dinikmati karena kenyamanan prestise sosial yang menjadi bayaran.

Celakanya, untuk menggapai sukses-sukses salah kaprah ini, karena begitu pentingnya kesuksesan dalam hidup ini, dilakukanlah segala cara. Mereka yang bekerja di media massa tahu betapa tebal tipisnya amplop sering ikut berperan membuat seseorang sukses atau tidak sukses. Buku-buku Cara cepat jadi kaya dan Sukses dalam Wawancara (untuk diterima kerja) dibaca bagaikan menelan pil, supaya kesuksesan bisa di raih dengan secepat-cepatnya. Pada giliranya ini melahirkan falsafah kesuksesan macam Sepuluh Cara Rumahtangga Bahagia, Selusin Cara mempertahankan Cinta, Kiat-kiat Bahagia Sepanjang masa. Begitulah. Mau bahagia kok maksa!

Masalahnya, boleh kan di Jakarta ini seseorang tidak usah ikut-ikut berburu kesuksesan? Boleh kan jadi orang-orang biasa saja yang cukup puas asal bisa hidup mandiri, tidak jadi parasit, dan bisa berekspresi secara merdeka? Boleh kan tidak usah berkompetisi dan santai-santai menjadi juara nomor enam saja, atau nomor duabelas, tidak usah pakai dasi, tidak usah pakai batik, tidak usah membungkuk-bungkuk rindu order, tidak usah cari muka, menjadi warga kelas dua saja yang tidak usah nonton opera dan culup puas (meski sering sebel juga) dengan sinetron sambil terkantuk-kantuk dimuka televisi? Boleh kan menjadi manusia biasa yang sedang-sedang saja? Berbahagialah orang yang tidak sukses, selama mereka tidak punya beban. Bagi yang memberhalakan kesuksesan, tapi gagal, boleh ditunggu di lapangan parkir: siapa tahu meloncat dari lantai 20.

Itulah sebabnya, kalau orang berkata, “Semoga sukses!”, saya berpikir, “Wah, kalau tidak sukses, bagaimana?”

.::.

Jakarta, 23 mei 2007.
mochathar@gmail.com
Disadur dari buku
affair:obrolan tentang jakarta oleh Seno Gumira Ajidarma
Penerbit Buku Baik Yogyakarta tahun 2004

Posted by: athar | 21 August 2007

Masihkah Jakarta berarti kemenangan??

Sebuah kota dibangun oleh makna,
adalah makna yang membuat suatu tempat mempunyai nama.

Jakarta, demikian selalu disebutkan, berarti kemenangan. Riwayat itu bisa dilacak sendiri, antara lain misalnya dari Hikayat Jakarta (Obor,1988) yang ditulis Willard A. Hanna. Kemasan yang lebih populer, tentang berbagai nama tempat dan riwayatnya di Jakarta, belakangan ditulis oleh Alwi Shihab dalam dua buku, Robin Hood Betawi (Republika,2001) dan Betawi: Queen of the East (Republika,2002). Memang, eksotisisme adalah daya tarik luar biasa bagi nama-nama tempat – sesuatu menjadi luar biasa karena berjarak. Sejarah, perjalanan waktu, membuat nama tempat mempunyai daya tarik karena nama itu sendiri. Artinya, adalah makna yang membuat suatu tempat mempunyai nama.

Diantara yang menggetarkan misalnya adalah Kampung Pecah Kulit. Barangsiapa menyelidiki asal nama itu akan bergidik: seorang warga Batavia keturunan ayah Belanda-Jerman dan ibu Jawa yang mengadakan perlawanan atas kebijakan kolonial Belanda, telah dihukum dengan cara yang amat kejam. Tangan dan kakinya masing-masing ditarik oleh empat ekor kuda ke empat jurusan. Setelah itu kepalanya dipenggal, dan setelah di tancap oleh sebuah tombak, dipancangkan di halaman rumahnya sendiri sebagai monumen peringatan, dengan inskripsi yang masih tersimpan di Musium Sejarah DKI: “Catatan, dari peringatan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara
yang telah dihukum:Pieter Erberveld. Dilarang, orang mendirikan rumah, gedung, atau memasang papan kayu,
demikian pula bercocok tanam, di tempat ini, sekarang sampai selama-lamanya. Selesai.”

Tulisan ini ditatah pada sebuah batu biru dalam bahasa Belanda, lengkap dengan terjemahan dalam bahasa Jawa (Baru) yang berhuruf Jawa pula. Monumen dan batu biru itu sudah lenyap, tapi riwayat Pieter Erberveld yang malang terabadikan oleh Tio Ie Soei, yang menuliskanya dalam bahasa Melayu Tionghoa: Pieter Elberveld (Satoe kedjadian jang betoel di Betawi), yang kini bisa dibaca dalam antologi sastra pra-Indonesia Tempo Doeloe (Hasta Mitra,1982) susunan Pramoedya Ananta Toer. Perhatikan beda huruf r dan l pada nama si korban, tapi itu urusan para sejarawan.

Bagi saya, yang penting, dengan terbacanya tulisan ini, peristiwa yang kejadianya tanggal 22 April 1722 itu akan masih bisa dikenang sekali lagi dengan arti yang kebalikan dari maksud semula. Alih-alih hukuman dimaksud untuk membungkam perlawanan, peristiwa yang terabadikan pada nama Kampung Pecah Kulit di Jakarta Utara itu justru menjadi inspirasi melawan penindasan para pengusaha: kalah tidak usah jadi masalah, selama tidak pernah menyerah. Pada masa itu, hukuman mati dipertontonkan kepada orang banyak. Sebagaian barangkali memang menjadi makin takut, tapi sebagian lagi saya kira menjadi berpikir, karena tidaklah terlalu susah kiranya untuk memandang peristiwa semacam itu dengan kritis.

Sikap kritis melahirkan kesadaran. Namun jika penyadaran tak terus menerus dilakukan, manusia itu mudah lupa: coba saja tanyakan kepada para pejabat produk reformasi, seberapa ingat mereka kepada para nama-nama para mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas oleh peluru para penembak jitu di tahun 1998? Kalau saya, sebagai musafir lata, boleh saja lupa – tapi bagaimana dengan mereka yang berkat reformasi mendadak kaya? Kampung Pecah Kulit bukan satu-satunya kisah. Setiap nama tempat punya riwayat, yang tak usah selalu heroik, tapi mempunyai makna yang memperkaya. Persoalanya, bagaimanakah agar kekayaan makna itu bisa terhampar, dan siapapun bisa memungutinya?

Ini bukanlah soal menancapkan sembarang patung, atau memberi nama jalan, yang kemudian terbukti kehilangan makna – tapi memberi arti kepada peristiwa kemanusiaan yang barangkali saja menelan korban. Nama Jalan Taman Siswa misalnya, jelas berbeda dengan sekedar Jalan Bougenville. Kalau kita membaca roman Manusia Bebas (1940) yang ditulis Suwarsih Djojopuspito tentang kegiatan pendidikan kaum nasionalis di tahun ‘30an, kita tidak akan mengira betapa risiko profesi guru itu adalah penjara. Sebuah kota tak hanya dibangun oleh aspal, beton, dan batu bata – ia terutama dibangun oleh makna.

Masihkah kiranya Jakarta berarti kemenangan? Sebuah anekdot berkisah tentang bagaimana Betawi mendapatkan namanya. Konon pasukan kumpeni susah payah menahan serbuan tentara Mataram pada abad XVII. Mereka terkurung di bentengnya begitu rupa, sehingga harus melempar atau menyemprotkan tinja dari berbagai pembuangan. Karuan orang-orang Jawa yang menyerbu itu lari menghindar sambil berteriak: “Mambet tai! Mambet tai!” yang artinya adalah bau tinja, yang akhirnya terlafalkan sebagai be-ta-wi untuk mengabadikan tempat itu. Adapun para ahli bahasa, memang cenderung merujuknya sebagai keterpelesetan lidah atas ucapan Batavia. Tapi tidakkah boleh kita pertanyakan lagi sekarang: apakah Jakarta masih pantas bermakna kemenangan, atau sekedar bau tinja?

.::.


Sabtu, 26 Mei 2007
mochathar@gmail.com
disadur dari buku:
affair:obrolan tentang jakarta
2004 oleh Seno Gumira Ajidarma.

Posted by: athar | 21 August 2007

Jazz

Jazz has been said to the rythm od human life thru out the years. This particular kind of music has been the base ground for the most astonishing musical development in history. If we would search for the roots of many music styles of our days, we would find that jazz is the most important, and in some cases the only root we can find.

Jazz was born around 1895 in New Orleans, deep in the african american magical and soulful culture of the town; and it was influenced by Tribal drums, the development of gospel, ragtime or the blues. The origin of the word “jazz” has been traced back to an ordinary term used by some to describe sexual acts, and some of it’s early sounds associated with whore houses and some other illegal entertainment night clubs. Thru out the years what make jazz such a unique musical expression, was the use of improvisation. While other kinds of music had guidelines and composition, Jazz grew to be considered a musical art form, free thoughts transformed into a wild spontaneous but extremely melodic and soulful expression.

Because off all the respect we have for the music and it’s artists, we wont define jazz into a simple text, it would be impossible, and most important because for those go play, jazz should stay undefined. Make the most of it, enjoy, and feel the music.

“if you gotta ask, you’ll never know” Rene’ van Helsdingen.

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.